Sabtu, 27 Agustus 2016

Tatkala Orang Jepang Berbudaya Mandar



RAKYATKU.COM, POLMAN - Sayyang Pattuqduq atau Kuda Menari di Polewali Mandar sudah menjadi tradisi di setiap acara yang dilakukan oleh masyarakat. Penunggangnya adalah perempuan Mandar yang cantik menawan. Namun kali ini, justru wisatawan Jepang yang menungganginya di Gonda Desa Laliko Kecamatan Campalagian. 
Mereka terlihat sangat senang bisa menaiki Kuda Menari dengan berpakaian lengkap adat Mandar layaknya gadis Mandar. Kesenangan mereka pun memuncak, saat musik rebana mulai ditabuh dan kuda pun menari. Wisatawan tersebut lalu diarak keliling kampung.
"Barusan ada begini Pak. Unik sekali. Cantik sekali pake pakaian Mandar," ujar Sitti warga sekitar yang antusias melihat pertunjukan yang lain daripada biasanya di tanah Mandar.

Setelah ber-Sayyang Pattuqduq, mereka kembali diajak naik delman atau bendi berkeliling kampung untuk melihat proses pembuatan sarung sutra mandar. Karenanya, para wisatawan ini berharap, bisa kembali mengunjungi Polman. "Saya sangat senang dengan Polman. Di sini, saya bisa banyak melihat hal yang belum pernah saya temukan di negara saya. Masyarakatnya juga baik dan ramah" kata Momoka, salah satu wisatawan Jepang.

Senin, 26 Januari 2015

Lipaq Saqbe: Sarung Tenun Sutra Mandar



Meskipun tidak sepopular daerah lain di Pulau Sulawesi namun provinsi muda Sulawesi Barat dianugerahi banyak keajaiban. Garis-garis pantainya begitu indah dan dataran tingginya dihias air terjun yang megah dengan pemandangan menakjubkan. Selain alam, tersimpan keajaiban lain di Sulawesi Barat, yaitu masyarakat etnis Mandar yang memiliki seni budaya seindah pesona alamnya. Perhatikan bagaimana pengrajinnya yang jenius mampu menciptakan kapal Sandeq yang cepat mengarungi lautan. Jangan lupakan juga dari tangan halus kaum wanitanya tercipta salah satu karya Mandar yang luar biasa yaitu Saqbe Lipaq atau lebih dikenal dengan Sarung Tenun Sutra Mandar.

Sarung tenun sutra Mandar memiliki warna–warna cerah atau terang seperti merah, kuning dengan desain garis geometris yang lebar. Meskipun memiliki pola sederhana namun benang perak dan emas yang menjadi bahan dasar kain sutra ini menjadikan Sarung tenun sutra Mandar terlihat indah dan istimewa. Dikenal sebagai salah satu produk sutra yang paling halus di Nusantara, Sarung Tenun Sutra Mandar bukanlah kain yang dapat dikenakan untuk sehari-hari. Seperti halnya kain Ulos milik suku Batak di Sumatera Utara yang hanya digunakan pada acara tertentu saja. Sarung Tenun Sutra Mandar pun hanya dikenakan pada acara-acara tertentu misalnya pernikahan, upacara keagamaan dan kadang-kadang untuk shalat Jumat di masjid.

Umumnya, Saqbe Lipaq memiliki dua motif berbeda yaitu Sure’ dan Bunga. Motif Sure’ berbentuk garis geometris sederhana yang merupakan motif Saqbe Lipaq klasik. Sedangkan motif Bunga merupakan perpanjangan dari motif Sure’ dengan penambahan berbagai dekorasi. Secara tradisional, motif Sarung Tenun Sutra Mandar dirancang berdasarkan kasta atau tingkatan derajat mereka yang memakainnya seperti keluarga kerajaan, pejabat pemerintah, pedagang kelas atas dan lain-lain. Di antara beberapa motif tradisional yang umum adalah: Salaka, Padzadza (Parara), Taqbu, Aroppoq, Pandeng, Pangulu, Benggol, dan lainnya.



Hingga saat ini Lipaq Saqbe masih diproduksi dengan metode konvensional sehingga untuk menghasilkan selembar Saqbe Lipaq dapat memakan waktu 2 sampai 3 minggu, bahkan berbulan-bulan tergantung pada kesulitan motifnya. Proses ini dimulai dari menguntai benang sutra dari kepompong sutra melalui Ma'unnus (menarik benang dari kepompong) dan Ma'ttiqor (Pemintalan benang). Akan tetapi, saat ini ada banyak benang sutra sudah tersedia di pasaran. Selanjutnya, benang sutra akan menjalani proses pewarnaan. Beberapa produsen Saqbe Lipaq masih menggunakan zat pewarna alami seperti daun nila, kalanjo (kelapa bertunas), bakko (kulit Mangrove), dan lainnya. Proses pewarnaan ini dikenal sebagai macingga.

Proses selanjutnya disebut manggalerong proses dimana benang sutra yang sudah diwarnai ditempatkan pada sepotong benda bulat (biasanya bambu) kemudian diputar untuk membuat gulungan benang sutra. Setiap gulungan benang sutra (galenrong) hanya terdiri dari satu warna saja. Gulungan benang sutra kemudian ditempatkan pada alat yang disebut pamalingan dan siap untuk proses menenun.

Setelah mempersiapkan benang dalam proses yang disebut sumau dan mappatama, proses menenun atau manette dapat dimulai. Proses menenun Saqbe Lipaq menggunakan mesin tenun tradisional Mandar yang disebut parewa tandayang. Parewa tandayang telah digunakan dari generasi ke generasi mulai dari nenek moyang masyarakat Mandar. Selain dari keterampilan tenun sarung sutra, kemampuan memproduksi parewa tandayang sendiri juga diwariskan dari generasi ke generasi.

Harga Kain Sarung Tenun Sutra Mandar dihargai mulai dari Rp100.000,- hingga Rp500.000,- per helainya. Untuk bisa medapatkan kain ini ketika berkunjung ke Sulawesi Barat, datanglah ke Desa Pambusuang, Kabupaten Polewali Mandar dimana terdapat pusat Kain Sarung Tenun Sutra Mandar. Di Desa Pambusuang ini, penduduknya rata-rata bekerja menenun sarung tenun Sutra Mandar di rumah mereka masing-masing.

Senin, 19 Januari 2015

                                         Peran dan Fungsi Saeyyang Pattuqduq di Mandar 

Penyelenggaraan tradisi saeyyang pattuqduq bagi orang Mandar lebih merupakan apresiasi positif masyarakat dalam hal ini orang tua anak yang telah khatam bacaan Qurannya. Kehadirannya lebih merupakan motivasi bahwa ketika anak tamat mengaji (sudah lancar membaca Al Quran dengan baik dan benar) maka kelak iak akan diarak keliling kampung dengan mengendarai kuda yang pintar menari (saeyyang pattuqduq). Ditilik dari kaidah pendidikan, keberadaan saeyyang pattuqduq ini merupakan hadiah (reward) bagi anak yang telah menyelesaikan pendidikan, khususnya dalam hal pendidikan keagamaan. Sebab pada saat anak diserahkan ke guru mengajinya, maka kelak ia akan dididik bukan hanya tata cara membaca Al Quran dengan baik dan benar, anak juga akan diajarkan pendidikan akhlak dan budi pekerti yang baik.

Dengan janji akan diarak berkeliling dengan menunggangi saeyyang pattuqduq anak-anak kelak akan rajin mengikuti pembelajaran di tempat mengajinya (TPA dan sejenisnya).dan tidak terlupakan makna filosofi Saeyyang Pattuqduq. 

Seiring dengan perkembangan jaman, peran dan fungsi saeyyang patuuqduq juga mengalami perkembangan. Saeyyang pattuqduq tidak diperuntukkan bagi anak-anak yang sudah khatam Quran, bahkan lebih dari itu peran dan fungsinya bergeser. Tradisi ini juga sering diselenggarakan manakala ada tokoh (pejabat publik, elit politik) saat datang di tanah Balanipa Mandar dan penyambutan wisatawan asing yang dating di Mandar mereka di jemput dan diarak dengan saeyyang pattuqduq. Bahkan sudah menjadi agenda tahunan penyelenggaraan festival saeyyang pattuqduq di Kabupaten Polewali Mandar,Kabupaten Majene dan Kabupaten Mamuju biasanya, para peserta terhimpun dari berbagai kampung yang ada di desa Daerah tersebut . Diantara para peserta ada yang datang khusus dari desa sebelah, bahkan ada juga yang datang dari luar Kabupaten, maupun luar Provinsi Sulawesi Barat

Rangkaian acara tahunan ini, Pada momentum ini biasanya melibatkan sekitar 20 sampai 100 kuda pattuqduq dan diikuti lebih dari ratusan peserta tiap tahunnya.Dampak positif dari kegiatan festival ini adalah bahwa para pemilik kuda yang pintar menari ini mendapatkan penghasilan tambahan, karena kuda pintar mereka dipersewakan dengan tarif yang lebih dari biasanya.

Memang duduk di atas saeyyang pattuqduq akan menakutkan dan melelahkan, tapi cukup menyenangkan bagi mereka yang baru pertama kali merasakannya (tidak terbiasa). oleh karenanya untuk menaiki punggung saeyyang pattuqduq, haruslah seseorang memiliki nyali yang besar, karena hail ini cukup menantang.

Pesta Adat Sayyang Pattudu

Kuda Pattuddu yang digunakan oleh orang yang akan merayakan khatamul quran tersebut di hiasi sedemikian rupa layaknya kuda tunggangan raja yang akan melakukan pesiar ke daerah kerajaan yang di kuasainya atau menghadiri undangan kerajaan tetangga. Begitu pula dengan orang yang menungganginya , diahiasi dengan menggunakan pakaian adat Mandar dengan menaungi payung kehormatan yang di sebut dengan istilah Lallang Totamma.

Untuk menggunakan kuda Patuddu ini tidaklah murah, seseorang yang berminat untuk khatamul qur’an dengan adat pattuddu harus merogoh kocehnya sedalam mungkin.sewa seekor kuda biasanya Rp 650 ribu.Biaya itu diluar perongkosan untuk membayar penabuh rebana yang setia mengiringi setiap langkah kuda kemana saja yang mencapai Rp.1,5 juta untuk satu grup yang berjumlah puluhan orang tersebut.sebab tanpa para penabuh Rebana ini kuda Pattuddu ini tidak akan menari, hanya berjalan biasa seperti layaknya kuda lainnya. Dana sebesar itu belumlah final dalam perongkosan untuk menggelar khatamul quran dengan menggunakan adat patuddu, sebab anggaran komsumsi pun mencapai puluhan juta sebab acara ini di gelar layaknya sebuah hajatan mriahnya sebuah pernikahan bahkan melebihi dari itu.

Tujuan dari pergelaran kuda Pattuddu ini adalah untk memberikan motivasi dan spirit kepada generasi muda untuk senantiasa mengamalkan dan mempelajari ayat ayat suci al quran dan menjadi salah satu implementasi bentuk syiar Islam pada zaman kerajaan. hanya saja kuda Pattuddu ini cuma di gelar oleh suku suku mandar yang menjadi mayoritas di sebuah perkampungan, sementara suku suku Mandar yang ada di perantauan sulit untuk mendatangkan kuda sebagai salah satu binatang utama dalam menggelar Kuda Pattuddu, sebab kuda ini tergolong istimewa yang hanya di gunakan pada saat ada pergelaran adat semacamnya, sementara jika pergelaran itu usai, ia hanya dipelihara tanpa di gunakan tenaganya.

Selain itu Pesta Adat Sayyang Pattudu di kenal istilah Tiriq” atau pohon telur yang diarak keliling Sayyang Pattudu (kuda menari), begitulah masyarakat suku Mandar, Sulawesi Barat menyebut acara yang diadakan dalam rangka untuk mensyukuri anak-anak yang khatam (tamat) Al-Qur‘an. Bagi warga suku Mandar, tamatnya anak-anak mereka membaca 30 juz Al-Quran merupakan sesuatu yang sangat istimewa, sehingga perlu disyukuri secara khusus dengan mengadakan pesta adat Sayyang Pattudu. Pesta ini biasanya digelar sekali dalam setahun, bertepatan dengan bulan Maulid/Rabi‘ul Awwal (kalender Hijriyah). Pesta tersebut menampilkan atraksi kuda berhias yang menari sembari ditunggangi anak-anak yang mengikuti acara tersebut.

Bagi masyarakat Mandar, khatam Al-Qur‘an dan acara adat Sayyang Pattudu memiliki pertalian erat antara satu dengan lainnya. Acara ini tetap mereka lestarikan dengan baik, bahkan masyarakat suku Mandar yang berdiam di luar Sulawesi Barat dengan sukarela akan kembali ke kampung halamannya demi mengikuti acara tersebut.


Ritual istimewa

Ritual istimewa bagi warga suku Mandar, suku yang lebih dari mayoritas mendiami Sulawesi Barat, khatam Al Quran adalah sesuatu yang sangat istimewa sehingga tamatnya membaca 30 juz Al Quran tersebut disyukuri secara khusus. Namun, tidak semua warga yang berdiam di Sulawesi Barat menggelar acara Sayyang Pattuddu`. "Bagi masyarakat Mandar, tamat membaca Al Quran adalah sesuatu yang penting sebelum memasuki bangku sekolah dasar. Makanya, sejak belia sudah belajar mengaji sejak usia lima tahun. Tidak butuh waktu lama, asalkan tekun, tidak sampai setahun, dia sudah tamat,"

Puncak acara khatam Al-Qur‘an dengan menggelar pesta adat Sayyang Pattudu ini memiliki daya tarik tersendiri dengan diramaikan arak-arakan kuda mengelilingi desa yang dikendarai oleh anak-anak yang telah menyelesaikan khatam Al Quran ini setiap anak mengendarai kuda yang sudah dihias sedemikian rupa. Kuda-kuda tersebut juga sudah terlatih untuk mengikuti irama pesta dan mampu berjalan sembari menari mengikuti iringan musik, tabuhan rebana, dan untaian pantun khas Mandar yang mengiringi arak-arakan tersebut.

Ketika duduk di atas kuda, para peserta yang ikut Sayyang Pattudu akan mengikuti tata atur baku yang berlaku secara turun temurun. Dalam Sayyang Pattudu, para peserta duduk dengan satu kaki ditekuk ke belakang, lutut menghadap ke depan, sementara satu kaki yang lainnya terlipat dengan lutut dihadapkan ke atas dan telapak kaki berpijak pada punggung kuda. Dengan posisi seperti itu, para peserta didampingi oleh Pesarung tadi agar keseimbangannya terpelihara ketika kuda yang ditunggangi menari. Peserta Sayyang Pattudu akan mengikuti irama liukan kuda yang menari dengan mengangkat setengah badannya ke atas sembari menggoyang-goyangkan kaki dan menggeleng-gelengkan kepala agar tercipta gerakan yang harmonis dan menawan.Saat acara sedang berjalan meriah, tuan rumah dan kaum perempuan sibuk menyiapkan aneka hidangan dan kue-kue untuk dibagikan kepada para tamu. Ruang tamu dipenuhi dengan aneka hidangan yang tersaji di atas baki yang siap memanjakan selera para tamu yang datang pada acara tersebut.

.Pesta adat Sayyang Pattudu lebih biasanya diadakan di Desa Karama, kelurahan Tinambung,Kecamatan Tinambung,desa Pambusuang dan Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat.Untuk mencapai lokasi, para wisatawan dapat menggunakan angkutan umum atau kendaraan pribadi. Untuk menuju lokasi, perjalanan dapat dimulai dari Bandara Tampa Padang yang terletak di Kota Mamuju. Dari bandara tersebut perjalanan kemudian dilanjutkan ke Kota Polewali Ibu Kota Kabupaten Poleweli Mandar, Sulawesi Barat dengan waktu tempuh 1 jam 30 menit. Setelah sampai di Kota Poleweli, kemudian perjalanan dilanjutkan ke lokasi yang berjarak sekitar 52 km dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Tidak di pungut biaya.

Di Desa Karama, tempat pesta adat ini dilaksanakan, belum ada hotel untuk menginap bagi para wisatawan yang datang dari luar daerah. Tapi tidak usah gundah, sebab masyarakat setempat membuka pintu rumah mereka bagi tamu yang datang ke daerah tersebut untuk menyaksikan pesta adat Sayyang Pattudu. Begitu juga untuk makanan, para wisatawan akan mendapatkan suguhan yang memuaskan dengan beraneka makanan yang disediakan oleh tuan rumah untuk menyambut tamu.


Asyiknya Prosesei Saeyyang Pattuqduq

Sejak pagi warga berduyun-duyun mendatangi masjid, membawa berbagai hantaran dalam sebuah balasuji (wadah berbentuk segi empat besar yang terbuat dari bambu). Isi balasuji beragam, di antaranya pisang, kelapa, gula merah, beras, dan kue-kue tradisional. Mereka yang sudah sampai di masjid kemudian berzikir dan membaca doa hingga menjelang siang. Saat zikir usai, isi balasuji dibagi-bagikan kepada warga sekitar. Tak jarang pula pemilik balasuji saling bertukar isi dengan pembawa balasuji lainnya.

Pada saat yang sama, di rumah-rumah warga, kaum perempuan sibuk menyiapkan aneka masakan dan kue-kue. Umumnya di rumah-rumah yang penghuninya menggelar acara khitan, ruang tamu disulap menjadi tempat makan lesehan dengan baki dan tatakan makan lainnya yang penuh berisi beragam jenis makanan dan kue-kue.

"Kalau sudah begini, siapa pun yang singgah wajib mencicipi hidangan yang disajikan. Bahkan biasanya dari desa lain pun ada yang datang menyaksikan acara ini dan mereka juga dipanggil naik ke atas rumah untuk makan. Jadi, biasanya kami memang menyiapkan cukup banyak makanan.

Kegembiraan dan keramaian tidak hanya berlangsung pagi hingga siang hari itu. Malam sebelumnya, rumah-rumah warga, yang putranyaputrinya mengikuti acara khatam, sudah diramaikan suara orang-orang yang membacakan ayat-ayat suci Al Quran, lagu-lagu kasidah, dan tetabuhan rebana. Alunan syahdu itu terdengar sejak waktu shalat isya hingga menjelang pagi.

Saat yang paling ditunggu-tunggu akhirnya tiba menjelang sore. Puncak acara ini ditandai dengan arak-arakan anak-anak yang tamat mengaji (khatam Al Quran) keliling desa. Anak-anak yang diarak masing-masing menunggangi kuda berhias.Kudanya pun bukan sembarangan. Kuda-kuda tunggangan itu mampu berjalan sembari menari. Kuda-kuda tersebut menari diiringi tabuhan rebana dan pembacaan pantun khas Mandar.

Tak pelak, kegembiraan warga tumpah ruah bersamaan dengan dimulainya arak-arakan. Di sepanjang jalan yang dilalui arak-arakan kuda, warga biasanya berdesak-desakan bahkan banyak di antaranya yang berjalan mengikuti arak-arakan. Biasanya, setiap kali kuda yang diunggulkan lewat, mereka akan bersorak-sorai mengelu-elukan kuda tersebut.

Sorak-sorai bertambah ramai bila tarian kuda cukup lama dan bagus. Memang di sela arak-arakan, kuda beberapa kali berhenti kemudian memain-mainkan kaki depannya secara bergantian sembari menggeleng-gelengkan kepala ke kiri dan kenan layaknya sedang menari.

Satu per satu kuda diatur berbaris di depan masjid. Di atas kuda duduk seorang pissawe (pendamping) yang mengenakan pakaian adat mandar lengkap. Lazimnya yang menjadi pissawe adalah perempuan. Tak mudah menjadi seorang pissawe karena butuh keseimbangan tubuh yang bagus.

Pasalnya, saat duduk di atas kuda, pissawe harus duduk dengan satu kaki ditekuk ke belakang dengan lutut mengarah ke depan dan satu kaki lainnya terlipat dengan lutut mengarah ke atas dan telapak kaki berpijak pada badan kuda. "Dengan model duduk seperti ini, keseimbangan harus betul-betul terjaga saat kuda yang ditunggangi menari dengan mengangkat setengah badannya ke atas sembari menggoyang - goyangkan kaki dan menggeleng-gelengkan kepala. Walaupun ada yang membantu memegang kuda, tetapi kalau tidak kuat, bisa jatuh.

Di belakang pissawe duduk anak yang khatam mengaji atau yang disebut to tamma’tadi Yang perempuan mengenakan pakaian muslim dan penutup kepala, sedangkan anak laki-laki mengenakan baju gamis yang dilengkapi penutup kepala layaknya digunakan orang di Timur Tengah. Di samping kiri dan kanan kuda, empat orang memegang kuda. Mereka juga disebut pissarung.

Selain itu, ada pula seorang pakkaling da’ddaq`berdiri di bagian depan, tepat di sebelah kepala kuda. Pakkaling da’ddaq` adalah orang yang bertugas membaca pantun dalam bahasa mandar sepanjang arak-arakan dilakukan. Biasanya pantun yang diucapkan berisi kata atau kalimat yang lucu dan selalu disambut penonton dengan sahutan, teriakan, celetukan, atau tepukan tangan.

Di depan kuda ada pemain rebana yang berjumlah 6-12 orang. Kelompok ini terus memainkan rebana dengan irama tertentu sembari kerap berjingkrak-jingkrak, mengiring kuda menari. Pukulan rebana biasanya akan terhenti sejenak bila pakkaling dadda` mengucapkan pantun.

Dari situlah saya menyadari betapa kebangganku terhadap Negeri kelahiranku ini Balanipa Mandar sang mastero Nusantara kaya akan kebudayaan yang teramat khas substansinya namun yang di khwatirkan ialah kebudayan – kebudayaan Mandar jangan sampai menjadi Subyektifitas yang terlupakan oleh masyrakatnya sendiri.

Saeyyang Pattuqduq pada Festifal kebudayaan Se – Nusantara di Istana Merdeka Jakarta pada bulan Agustus 2008 silam pada momen memperingati hari kemerdekaan Indonesia, mengantar Sulawesi Barat sebagai provinsi termuda di Indonesia menjadi yang terbaik kemudian di susul secara berturut,kembali Sulbar di ajang yang sama di tahun 2009 lewat Perahu Sandeq (perahu tanpa mesin tercepat Nusantara) menjadi yang terbaik dari 33 provinsi yang ada di Indonesia.
SUKU MANDAR DI SULAWESI BARAT

Sulawesi Barat diperkirakan lebih dari 260.000 orang dan di Kalimantan Selatan 29.322 orang pada sensus tahun 2000.

Suku Mandar masih berkerabat dengan suku Bugis dan Makassar, karena terdapat kedekatan dalam segi asal-usul sejarah, budaya dan bahasa.
Suku Mandar ini termasuk salah satu suku yang suka hidup di laut, termasuk salah satu suku bahari, tapi mereka berbeda dengan suku Bajo dan suku-suku laut. Pemukiman mereka kebanyakan berhadapan langsung dengan laut lepas.
Mereka menganggap lautan sebagai rumah dan ladang untuk mencari sumber kehidupan.

Dalam catatan sejarah Tana Mandar, dijelaskan bahwa Pitu Ulunna Salu (Tujuh Hulu Sungai) dan Pitu Ba, Bana Binanga (Tujuh Muara Sungai), adalah negara wilayah Mandar. Orang-orang dari wilayah itu, menyatakan diri masih bersaudara dalam kesatuan Mandar. Orang Mandar percaya bahwa mereka berasal dari Ulu Sa' (nenek moyang), yang bernama Tokombong di Wura (laki-laki) dan Towisse di Tallang (perempuan). Mereka itu di sebut juga To-Manurung di Langi.

Kehidupan laut bagi suku Mandar adalah kehidupan yang telah dilakoni sejak ribuan tahun yang lalu, sejak dari zaman nenek moyang mereka yang telah bersahabat dengan laut. Laut bagi mereka adalah pemberi segalanya bagia mereka, yang memberi banyak sumber pengetahuan bagi mereka. Pengetahuan laut mereka adalah rumpon (roppong) adalah merupakan teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan yang diciptakan oleh para pelaut Mandar, yang terbuat dari rangkaian daun kelapa dan rumput laut, dan satu lagi yaitu perahu sandeq, yang merupakan perahu layar bercadik khas Mandar yang memiliki kecepatan yang tinggi.

Perahu-perahu suku Mandar terbuat dari kayu, namun mampu dengan lincah menyeberangi lautan bebas. Panjang sekitar 8-11 m dan lebar 60-80 cm, dan di sisi kiri dan kanan dipasang cadik dari bambu sebagai penyeimbang. Untuk berlayar, perahu tradisional ini mengandalkan dorongan angin yang ditangkap dengan layar berbentuk segitiga. Layar itu mampu mendorong Sandeq hingga berkecepatan 20 knot. Kecepatan yang tinggi untuk perahu dari kayu.

Pada masa lalu masyarakat suku Mandar memiliki ras nomaden laut, beberapa abad yang lalu, banyak dari mereka melakukan perjalanan melintas laut menyeberang ke pulau-pulau lain, sehingga banyak ditemukan pemukiman suku Mandar di daratan pulau Kalimantan, terutama di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.

Suku Mandar memiliki tradisi adat dan bahasa yang sangat kuat. Filosofi hidup dan prinsip hidup mereka berbeda dengan suku Bugis, Makassar, Toraja dan suku lainnya yang menjadi suku tetangga mereka di Sulawesi.

Mayoritas suku Mandar adalah pemeluk agama Islam yang taat, diperkirakan sekitar 90% adalah pemeluk agama Islam, sedangkan pemeluk agama lain hanya sebesar 10%. Beberapa tradisi adat dan budaya suku Mandar banyak dipengaruhi oleh budaya Islam.

Suku Mandar dalam kehidupan sehari-hari untuk bertahan hidup, mayoritas adalah berprofesi sebagai nelayan. Mereka menangkap ikan dengan perahu-perahu layar berukuran kecil selama beberapa hari. Mereka pandai menentukan kapan harus melaut sesuai dengan kondisi angin dan cuaca yang akan mereka hadapi di tengah laut. Selain itu beberapa ada juga yang berprofesi sebagai pedagang. Di halaman rumah, mereka memelihara beberapa hewan ternak untuk melengkapi kebutuhan daging bagi keluarga mereka.